Translation in IndonesiaKata-kata tak sempat terucapkan,
peluk-cium tak sempat disampaikan
Dr. Mohammad Omar Farooq
Translated from the original by: someone with Indonesian Muslim Society in America
Islamicity
(July 22, 2005)
Translation courtesy: http://lazuardi.f2o.org/articles.php?mode=comments&id=59
[Disclaimer: The original author does not know Indonesian and therefore unable to independently vouch for the translation.]
Alhamdulillah, kita telah sampai di pertengahan bulan suci Ramadhan ini. Semoga setiap amalan kita selama ini diterima dan segala khilaf kita diampuni oleh Alloh SWT. Semoga Alloh memberi kekuatan kepada kita untuk meningkatkan kualitas ibadah di babak terakhir Ramadhan ini. Amin.
Suatu saat kita merasa bahwa waktu berjalan sangat lambat. Di saat yang lain kita merasa waktu berjalan terlalu cepat kita berharap waktu berjalan lebih lambat sehingga kita bisa menyelesaikan semua pekerjaan dan rencana kita. Pada kenyataanya waktu berjalan dengan ukurannya sendiri tidak lebih cepat atau lebih lambat. Namun biasanya waktu bejalan jauh lebih cepat dari apa yang kita sadari.
"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran." (Qur'an - Al Asr 103:1-3)
Ini adalah pernyataan quran tentang kehidupan dan waktu. Jarak kita dengan kehidupan abadi di akherat berkurang detik demi detik, walaupun sering kita tidak menyadarinya.
Asumsi bahwa masih banyak waktu kedepan munkin hanya ilusi saja. Hari esok, bulan depan, tahun depan untuk perbutan baik kita yang ingin kita kerjakan, ucapan-ucapan baik yang akan kita ucapkan munkin datang, mungkin juga tidak. Mungkin kita sering dengar cerita-cerita seperti berikut:
Seseorang sebutlah si Badu, habis bertengkar dengan temannya pada suatu sore dan dia merasa bersalah karena dia berpikir bahwa kata-katanya telah menyakiti hati temannya. Dia tidak bisa tidur sepanjang malam memikirkannya. Pagi harinya Badu menelpon temannya di rumah untuk meminta maaf dan ingin mengatakan bahwa dia sebenarnya suka berteman dengannya. Namun temannya sudah berangkat kerja. Kemudian dia berpikir akan menelpon ke kantornya di siang hari pada waktu istirahat. Betul dia menelpon, namun sayangya temannya sudah pergi untuk "makan di luar". Dan tidak lama kemudian dia mendengar kabar bahwa ternyata temannya telah meninggal ketika terjadi keributan di restoran tempat dia makan. Badu menyesali kejadian tersebut, tidak sempat mengucapkan permintaan maaf dan pernyataan bahwa sebenarnya dia tidak benci dan bahkan suka berteman dengan dia.
Kata-kata tidak sempat terucap, tetap tidak terucapkan
Nabi Saw, bersabda: "Manfaatkan 5 perkara sebelum datang 5 perkara lainnya: masa mudamu sebelum datang masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu,luangmu sebelum sibukmu dan hidupmu sebelum matianmu." (Al-Haakim's Al-Mustadrak: 4-306)
Seorang ayah sebutlah si Banu beliau sering bersitegang dengan anak remajanya yang agak bandel. Pada suatu malam di musim panas beliau membentak anaknya dengan dengan kata-kata kasar, sehingga hati anaknya terluka.
Setelah beberapa saat beliau menyesal, beliau tidak bermaksud melukai hati anaknya. Dia berencana memeluk anaknya dan bilang bahwa dia sangat mencintainya walau semalam dia membentaknya. Namun esoknya tidak seprti biasanya si anak pergi pagi sekali, sebelum subuh, untuk "hiking" dengan kelompok pramukanya, yang pada waktu itu si Banu masih tidur. Oleh karenanya sepulang kantor si Banu sengaja mampir ke mall untuk membeli hadiah buat anaknya. Akan tetapi sebelum sampai rumah cell phone-nya berdering yang mengabarkan bahwa anaknya jatuh tergelincir dari tebing terjal, luka parah dan akhirnya meninggal sebelum sampai ke rumah sakit. Si ayah tidak sempat memberikan hadiah ke anaknya, tidak sempat memeluk atau menciumnya, tidak sempat mengatakan apa yang dia ingin katakan.
Yang tidak sempat terkatakan tetap tidak terkatakan
Aishar r.a. meriwayatkan bahwa beberapa orang datang menemui Rasulullah SAW dan berkata: "Apakah Anda suka mencium anak-anakmu?" Rasulullah SAW menjawab: "Ya". Kemudian mereka berkata: "Demi Allah, saya tidak mencium anak-anak saya". Kemudian Rasullullah SAW berkata: "Kemudian apa yang harus saya lakukan jika Allah telah menjauhkan anda dari rahmat-Nya" (Sahih Muslim, 5735)
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Al-Aqra bin Habsi melihat Rasulullah SAW mencium cucunya Hasan. Kemudan Al-Aqra bin Habsi berkata "Saya punya 10 anak, akan tetapi saya tidak pernah mencium satupun dari mereka". Kemudian Rasulullah SAW berkata: "Seseorang yang tidak menunjukan kasih sayangnya, tidak akan ada rahmat yang akan ditujukan kepadanya". (Sahih Muslim, 5736)
Seseorang sebutlah si Badi, merasa menyesal tentang tindakannya kepada kedua orang tuanya. Dia ingin meminta maaf dari mereka dan juga inging bertaubat kepada Allah dan meohon barakah dan rahmat-Nya. Namun sayanya dia tidak sempat berkata kepada ibunya karena ibunya keburu meninggal sebelum dia sempat berbicara dengannya.
Yang tidak sempat terkatakan tetap tidak terkatakan
Diriwayatkan oleh Anas bin Malik: Seseorang sedang bersama Rasulullah SAW dan ada seseorang (lain) melewati mereka dan berkata: "Rasulullah, saya cinta terhadap orang ini. Kemudian Rasulullah SAW berkata: "Sudahkah kamu katakan kepada dia? Dia menjawab: "Belum". Rasulullah SAW berkata: "Katakan kepada dia!". Kemudaian dia datang kepada orang tersebut dan berkata: "Saya mencintai anda karena Allah". Kemudian Orang tersebut menjawab: "Semoga Dia yang membuatmu menicintaiku, mencintai kamu". (Sunan Abu Dawood, 5106)
Hadis-hadis di atas bercerita tentang kasih sayang diantara para sahabat nabi. Tentunya juga berlaku juga bagi kasih kita tehadp orang-orang yang mempunyaki kedudukan khusus di hati kita. Walaupun ucapan "Saya menicintaimu" bukan pengganti dari perwujudan cinta dan kasih sayang kita dalam bentuk tindakan dan perilaku nyata namun penting kita sampaikan secara verbal dalam bentuk kata-kata ataupun tulisan. Marilah kita tidak menjadi bagian dari golongan yang tidak mengatakan "saya mencintaimu" terhadap orang orang yang kita cintai, baik orang tua, istri, anak, kerabat ataupun kawan-kawan kita.
Oleh karenanya biarkan prasangka jelek, pekerjaan sia-sia, kata-kata yang tidak baik, kita tunda sampai besok, sementara prasangka baik, perbutatan baik, perkataan baik, permintaan maaf, pernyataan kasih sayang, peluk dan cium segera kita sampaikan, bukan besok tapi sekarang.
Marilah bulan Ramadan dan lebaran Idul fitri kali ini menjadi awal bagi kita untuk membiasakan menyampakian kasih sayang kepada orang-orang yang kita sayangi dan menyegerakan perbutan baik, permintan maaf dan sebagainya, tidak perlu ditunda, mungkin hari esok tidak datang lagi. Terutama kita yang sebagai perantau jangan lupa untuk sesering mungkin menghubung orang-orang yang kita cintai nun jauh di sana walau cuman beberapa menit. Alhamdulillah berkat VoIP sekarang biaya telpon sangat terjangkau, sehingga tidak ada alasan lagi belama-lama tidak ada kontak.
Kita sebagai orang Indonesia termasuk yang sulit menyampaikan perasaan kita dalam bentuk kata-kata, namun tidak ada salahnya kita coba.
Disarikan (dengan sedikit tambahan) dari tulisan Dr. Mohammad Omar Farooq, Professor of Economics and Finance, Upper Iowa University.
http://www.globalwebpost.com/farooqm
dari IMSA
| This page has
been visited by |
Home Index of My Writings Have you visited my other sites? Kazi Nazrul Islam? Genocide/Bangladesh/1971? Hadith Humor? Economics-Finance? |
Words
Kisses Affection Love Islam Allah Rahmat Relationships
Words Kisses Affection Love Islam Allah Rahmat Relationships
Words Kisses Affection Love Islam Allah Rahmat Relationships
Words Kisses Affection Love Islam Allah Rahmat Relationships
Words Kisses Affection Love Islam Allah Rahmat Relationships